Memaknai kembali Hakikat Ibadah Qurban


"Qurban sejatinya tidak hanya menyembelih seekor kambing secara individual atau menyembelih seekor sapi secara kolektif, tetepi spirit Qurban adalah mendekatkan diri pada Dzat yang Maha Paemberi, melalui hamba-hamba Nya yang dhu'afa"


Demikian ditandaskan oleh Dr. Jaja Nurjanah, M.A. Sekretaris PCM Bojongsari, selaku khatib 'Idul Adha di hadapan jama'ah, yang bertempat di lapangan Sport Center Cluster Parangtritis Vila Dago Pamulang, Tangerang Selatan, Sabtu, 9 Juli 2022. 


Khutbah yang bertemakan " Memaknai kembali Hakikat  Ibadah Qurban" ini diikuti oleh ratusan jama'ah warga Cluster Parangtritis dan sekitarnya.


Dalam bagian lain khutbahnya, Kang Jaja, panggilan akrab Sang Khatib, mengingatkan bahwa Ibadah Qurban pada dasarnya menapaktilasi jejak-jejak Khalillullah Nabi Ibrahim AS., Tegasnya. Seperti dimaklumi lanjutnya,  bahwa Nabi Ibrahim telah lama mendambakan seorang putra. Keinginan, harapan dan doa untuk memiliki keturunan ini diabadikan di dalam Q.S Ash-affat ayat 100. " Ya Rabb karuniakan aku keturunan yang shalih." Setelah bertahun-tahun beliau berdoa, akhirnya Allah mengabulkan doa tersebut.


Pengabulan doanya ini disambut dengan kegembiraan yang tiada tara. Ia menamai sang Putra dengan Isma'il (Bahasa Ibrani, yang artinya Allah mengabulkan permohonan ku). Suatu yang sangat wajar dan manusiawi, jika Nabi Ibrahim merasakan kegembiraan ini. Karena hadirnya seorang Putra, berarti akan ada pelanjut perjuangan, sekaligus sebagai tempat berlindung di hari tua. 


Namun kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama, hanya beberapa belas tahun saja. Karena setelah itu, turun perintah Allah agar ia menyembelih putra semata wayangnya itu, lanjutnya".


Tentu perintah tersebut sangat mengejutkannya. Betapa tidak, putra semata wayang yang ia usahakan lewat perjuanga, doa, dan kesabaran yang tiada bertepi, akhirnya harus disembelih oleh tangannya sendiri. 


Kita bisa membayangkan perasaan sedih dan lara yang dirasakan oleh kekasih Allah. Namun ia menyadari bahwa ketetapan Allah harus diletakkan di atas segalanya, Paparnya.


Belajar dari peristiwa Nabi Ibrahim tersebut, maka sudah seharusnya kita pun lebih mengutamakan kepentingan Allah dan RasulNya. Tegasnya.